Sabtu, 13 Juli 2013

WIRAUSAHA PENDIDIK DAN PENDIDIKAN WIRAUSAHA

Oleh : Farid Mawardi
 
Pagi itu hari Minggu. Seperti biasa, saya memanjakan diri dengan menikmati car free day sekaligus melepas penat jiwa setelah beraktifitas selama seminggu (meski sebenarnya gak capek-capek banget, hehe). Terlihat banyak stand penjual makanan dan lainnya berjejer rapi. Beberapa wajah familiar yang berteduh di bawah sebuah tenda stand tersenyum kepada saya. Saya pun membalas senyum mereka seraya bertanya, “ngapain disini? Lagi jualan ya?”
 
Mereka menjawab iya. Hal ini harus mereka lakukan karena menjadi tugas kuliah di kampus, lebih tepatnya matakuliah wirausaha. Pertanyaan saya pun terjawab. Namun seusai meninggalkan mereka dan meneruskan jalan-jalan, saya membatin sambil menggumam sendiri.
 
Sebuah keganjilan menghampiri saya ketika itu. Mengapa mereka dibebani matakuliah wirausaha? Sebab setahu saya mereka adalah mahasiswa (Universitas Islam Madura) jurusan Tarbiyah (pendidikan) program studi PAI (Pendidikan Agama Islam) sebuah kampus di Pamekasan. Sepertinya sulit mencari titik temu yang mampu mempertemukan pendidikan dengan tugas berjualan di pasar. Bukankah berjualan di pasar sekaligus strategi marketting lebih pas menjadi tugas mahasiswa ekonomi ?
 
Tak lama kemudian kegelisahan batin saya mulai terobati. Terutama setelah melihat beberapa gedung besar di kanan kiri jalan, yang seolah bernafsu menghimpit jalan raya. Toko-toko besar ini setahu saya pemiliknya adalah saudara senegara kita dari ras tionghoa. Meski tergolong minoritas, tapi ras mereka mampu ‘bermain’ dalam perputaran dan pergerakan ekonomi di tengah-tengah masyarakat. Sehingga banyak dari mereka menjadi juragan besar yang menguasai bisnis dengan modal besar pula. Baik dari bisnis di bidang otomotif, obat-obatan, material, hingga masalah sandang.
 
Jujur saja, saya sering merasa iri terhadap mereka. Sebab meski mereka minoritas tapi mampu memainkan peran.  Jumlah mereka sedikit tapi banyak yang jadi juragan dan buruhnya justru ras kita sendiri yang katanya mayoritas. mereka juga tidak disibukkan untuk berfikir menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Meski terbukti bahwa itu bukan alasan untuk tidak menjadi kaya raya.
 
Fakta ini seolah menegaskan kepada saya bahwa bila ingin kaya tidak harus menjadi PNS. Atau bahkan salah bila menjadi PNS. How could be? Kok bisa? Ya, kan faktanya sudah demikian. Jika ingin kaya harus berwirausaha, yakni membangun usaha mandiri. Dengan kerja keras sebagaimana mereka, InsyaAllah bisa sukses.
 
Sehingga banyak hal penting yang harus kita bangun dalam jiwa kita. Yaitu karakter kuat, dan gigih yang selama ini menjadi  kunci sukses mereka (ras tionghoa) dalam berbisnis. Selain itu mereka juga tak merasa kecil hati ketika pada masa orde baru, mereka dipersulit (atau bahkan dijegal) masuk birokrasi, menjadi PNS, polisi dan militer. Sehingga mereka fokus untuk berbisnis dan ternyata mereka justru meraih sukses melimpah. Karenanya, banyak hal yang perlu kita teladani dari mereka. Tidak salah jika Rasul saw pernah bersabda:
أَطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ (الحديث)

Belajarlah walau (harus) ke negeri cina
 

Hal ini mungkin yang menjadi sebab utama, mengapa jurusan pendidikan pun harus mengenyam materi wirausaha. Dengan matakuliah ini ada harapan besar semoga mampu membentuk pendidik yang bisa menghidupi diri sendiri tanpa harus menancapkan angan-angan menjadi PNS yang kian lama semakin menggantung. Alam dan realitas hidup sudah mengajarkan segalanya kepada kita. Tinggal pertanyakan kembali dalam diri kita, maukah kita belajar dari mereka ras tionghoa?
 
Wallahu a’alam bis shawab 
salam
Panempan, Jumat, 13 Juli 2013

Jumat, 12 Juli 2013

MAU BERGAYA WARTAWAN APA GURU BESAR?

Oleh : Farid Mawardi
 

Tuhan memang tak pernah berhenti menunjukkan kebesarannya. Entah apa karena si hamba yang belum meyakini betul kebesaran tuhannya atau itu justru menjadi penanda kuat lemahnya si hamba dibanding kekuatan sang Tuhan. sehingga tak ayal ketika menjumpai sebuah titik fenomena makhluk alam ia merasa terpesona sehingga ia berkesempatan memuji-Nya. Subhanallah.
 

Dari sekian makhluk bagi saya yang paling asyik dikaji adalah manusia, makhluk yang masih satu species dengan saya (dan juga pembaca tentunya. Karena tak mungkin tulisan ini dibaca makhluk lain semisal jin dan lainnya. Hehe..)

Terlebih ketika satu dari sekian milyar manusia tampil di media publik semacam TV atau lainnya yang mampu berbicara tentang apa saja yang menjadi problem di tengah masyarakat. Baik persoalan politik, budaya, agama, hukum bahkan masalah pasar. Sehingga pemirsa kadang dipaksa bertanya dalam batin, “orang ini kok pandai banget sih. Ngomong segala hal kok bisa nyambung..”


Namun ada juga seseorang yang tampil di media hanya berbicara tentang satu tema saja. Bahkan tema itu identik dengan pribadi seseorang dimaksud. Dengan kata lain, tema tertentu mampu mengidentifikasi seseorang tersebut. For example, ketika Mahfud MD tampil di hadapan publik, sangat mungkin ia berbicara tentang supremasi dan penegakan hukum. Atau, kalaupun tema yang dikaji berbeda, barangkali yang dibahas masih berkaitan atau tidak jauh-jauh dari situ.


Dari kedua fakta ini dapat ditarik dua tipe kemampuan seseorang. Yang pertama, sedikit mengerti  tentang banyak hal, dan yang kedua Banyak mengerti tentang sedikit hal. Tipe pertama biasanya dimiliki wartawan atau mantan jurnalis. Itu terjadi karena menjadi bagian tuntutan profesi. Seorang wartawan harus mampu memahami dan mengimbangi informasi dari semua sektor alias nyambung ketika berbicara, meliput atau menganalisa berita dari semua segmen. Mulai dari segmen politik, hukum, budaya, bahkan tentang asmara dengan segala kisah kelamnya seperti perselingkuhan.


Tipe kedua, sering dijumpai pada guru besar atau dosen senior. Para beliau memang hanya menguasai satu dari sekian cabang ilmu pengetahuan, tapi itu dikuasainya secara fasih dan mendalam. Biasanya para beliau hanya mau diajak bicara tentang apa yang selama ini mereka dalami. Itu tidak lain karena bentukan lingkungan yang tidak mau berandai-andai dengan mengajak para beliau berbicara tentang apa yang bukan menjadi keahliannya. Apalagi dengan didukung iklim kampus yang masih semi idealis. Sehingga doktor di bidang pendidikan seringkali tak mau berbicara panjang lebar tentang hukum perdata, dan begitu pun sebaliknya.


Lalu di mana posisi kita? Dan di mana kita mesti memposisikan diri dan memilih dari kedua tipe di atas? Lalu tipe manusia mana yang paling baik?


Untuk pertanyaan pertama tentu anda sendiri yang lebih mengetahui. Karena tak ada yang lebih tahu tentang anda selain anda sendiri. Tak ubahnya ketika anda merasa gatal, ya anda sendirilah yang paling tahu di bagian mana yang terasa gatal. Bukan orang lain.


Bagi pertanyaan kedua, (menurut saya sih), ya tergantung kebutuhan. Bila anda jurnalis atau analis publik yang diminta analisanya tentang apapun, ya anda harus memenuhi itu dan menjadi tipe yang pertama. Namun bila anda seorang pengajar, guru atau dosen dengan kemampuan keilmuan tertentu, ya sudah semestinya anda menjadi diri anda sendiri dengan memilih untuk mendalami apa yang menjadi tugas anda.  Apalagi bila anda dikenal sebagai lulusan kampus  bonafit bin favorit yang terkenal dengan spesifikasi keilmuan tertentu. 


Karenanya sangat lucu bila lulusan kampus dengan program studi akuntansi malah gelagapan berbicara tentang akuntansi publik dan lebih mahir membahas modelling. Sangat aneh kan, bila seorang akuntan tidak mampu mengkalkulasi keuangan tapi malah mahir merancang busana.

Untuk pertanyaan terakhir, biar jawabannya dikembalikan kepada masing-masing pembaca. Sebab keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Selain itu bagi saya, kedua tipe tersebut lebih baik bagi kehidupan dan perkembangan manusia  daripada tak berpengetahuan sama sekali. Sebab tak berpengetahuan seringkali membawa diri pada pilihan yang serba sulit. Layaknya seorang buronan maling yang memilih kabur ke kebun salak yang penuh duri daripada menyerahkan diri ke kantor polisi. 


Karena itu, tinggal pilih. Mau bergaya wartawan apa guru besar?


Wallahu a’lam bish shawab
Salam
Panempan, Jumat, 12 Juli 2013