Jumat, 28 Mei 2010

Psikologi Warna

Merah, kuning, hijau dan biru merupakan empat warna utama menurut pakar psikologi. Dan meskipun belum bisa dipastikan dari sudut pandang sains, tetapi pada umumnya warna akan memiliki pengaruh atau sifat yang berbeda didalam aspek kehidupan manusia termasuk juga dari personalitinya. Dan berikut ini beberapa rahasia psikologi arti warna;

Biru:

Memberikan arti ketenangan yang sempurna. Memiliki kesan yang dapat menenangkan di denyut nadi, tekanan darah, pernafasan serta membantu didalam meningkatkan kesehatan diri.
 

Biru tua:
Memberikan arti yang melambangkan perasaan yang mendalam. Dan biasanya bersifat perasa, bijaksana, tidak mudah untuk tersinggung, bersikap tenang dan memiliki kenalan/rekan yang luas.

Biru muda:
Melambangkan sifat yang teguh dan kokoh. Tetapi biasanya sedikit keras kepala, serta sering berbangga diri dan memiliki pendirian yang tetap.

Coklat:
Memiliki sifat suka merebut, pesimis terhadap kesejahteraan dan kebahagiannya di masa depan.

Hijau:
Melambangkan adanya suatu ketabahan, keinginan namun keras hati. Memiliki pribadi yang keras dan dominan/berkuasa. Tetapi warna ini bisa meningkatkan rasa bangga. Penggemar warna ini biasanya sering menjadi pilihan untuk mendapatkan nasehat.

Hitam:
Melambangkan arti kehidupan yang terhenti serta memberi kesan kekosongan, kegelapan, kematian, dan kerusakan.

Kuning:
Mewakili sifat kegembiraan, cukup santai, mempunyai cita-cita setinggi langit.

Kuning terang:
Melambangkan sifat spontan dan toleransi yang tinggi. Begitu menonjol tetapi berubah-ubah sikap, suka berharap dan dermawan.

Abu-abu/Kelabu:
Samar-samar karakternya. Kecenderungan lebih netral.

Merah:
Melambangkan keadaan psikologi yang mengurangkan tenaga, mempercepatkan denyutan nadi, menaikkan tekanan darah dan mempercepat pernafasan. Warna ini mempunyai pengaruh produktiviti, perjuangan, persaingan dan birahi.

Merah Terang :
Mewakili kekuatan, kemahuan atau cita-cita. Warna ini turut melambangkan agresif, aktif, kemahuan keras, penuh ghairah dan dominasi.

Merah jambu:
Romantis, feminin, selalu rapi dan penuh jenaka.

Ungu:
Warna ini adalah campuran warna merah dan biru. Sifatnya sedikit kurang teliti tetapi selalu penuh harapan.

Nah, bagimana warna kesukaan Anda?

(Sumber: f-buzz.com)

Kamis, 27 Mei 2010

Lambatnya Pembebasan Lahan Di Kawasan Suramadu


oLeh : Farid Mawardi

Pembangunan infrastruktur merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur juga mempunyai peran yang penting dalam memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa serta diyakini sebagai pemicu pembangunan suatu kawasan. Baik itu kawasan sentra industri, bisnis dan perdagangan, maupun pendidikan.
Terlebih lagi jika kawasan dimaksud merupakan daerah tertinggal seperti di pulau madura. Empat kabupaten di pulau ini merupakan daerah paling tertinggal dibandingkan kabupaten lainnya dan berdasarkan BPS(2007) tingkat kemiskinan di Madura terparah di Jawa Timur.

Laju pertumbuhan ekonominya pun paling lambat sekitar 4,8% dibandingkan dengan Surabaya yang mencapai 6,9%. Sedangkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)nya 2,875 miliar rupiah sangat jauh dengan Surabaya yang mencapai 67,6 miliar rupiah. Pendapatan perkapita penduduk Madura juga hanya sekitar 6,5 juta/tahun sedangkan Surabaya dan sekitarnya mencapai 26 juta/tahun.


Naifnya Jembatan suramadu sebagai penghubung dan pembuka akses jalur madura-jawa hingga kini masih belum memberikan efek positif yang signifikan. Bangkalan yang yang diproyeksikan sebagai daerah industri, Hingga kini pengembangan kawasan itu terkesan jalan di tempat. Padahal jembatan terpanjang se-asia tenggara tersebut sudah beroperasi selama setahun.

Dalam sebuah diskusi yang digelar oleh harian KOMPAS bertemakan "Madura Pasca Jembatan Suramadu", Wakil Bupati Bangkalan Syafii Rofik memaparkan bahwa pembangunan di kawasan industri madura terkendala oleh harga tanah yang melonjak tajam hingga satu juta rupiah per meter dari harga sebelumnya. Dalam kesempatan itu, pembicara juga mengatakan bahwa penyelesaian masalah ini membutuhkan ketegasan dari pemerintah pusat Demi percepatan pembangunan di madura segera terlaksana. (KOMPAS, 24 maret 2010)


Begitupun, Sebenarnya Hampir dalam setiap proses Pembebasan lahan selalu berlangsung alot. Hal ini juga diakui oleh Direktur Utama PT Jasa Marga Frans Sunito mengatakan bahwa pembebasan lahan yang lamban banyak dikeluhkan oleh kalangan pengusaha. Di samping itu, selama ini banyak spekulan yang ikut bermain dan ingin mendapatkan keuntungan dari proyek pembebasan lahan. (KOMPAS, 17 Desember 2009)


Dalam persoalan ini berarti benar apa yang dikatakan bapak wakil bupati diatas bahwa campur tangan pemerintah pusat begitu dibutuhkan. Meski sayangnya hingga hari ini Tidak ada aturan setingkat undang-undang yang mengatur tentang pembebasan lahan. Sehingga banyak kalangan yang menganggap bahwa faktor inilah yang membuat banyak proyek infrastruktur terbengkalai.


Oleh karena itu kehadiran undang-undang ini tentu banyak ditunggu oleh banyak kalangan terutama para pengusaha dan investor. Sebab dengan undang-undang tersebut diharapkan proses pembebasan lahan bisa selesai lebih cepat dan para spekulan yang banyak bermain mendapatkan sanksi setimpal sehingga memberikan efek jera kepada yang lain. Walaupun sekali lagi undang-undang ini masih berwujud RUU tanpa tahu kapan tanggal pastinya akan diratifikasi.


Di sisi lain, keberadaan RUU yang dimaksud masih kontroversial. Ia ibarat bola api yang menggelinding begitu saja. Sebab, banyak analis mengatakan bahwa RUU tersebut berpotensi melegalisasi penggusuran dan lebih menguntungkan para kaum bermodal (baca: investor dan pengusaha). Padahal masyarakat Indonesia umumnya kini butuh pengakuan dan penguatan hak atas tanah. Bahkan, bagi sebagian besar yang lain, lebih mendasar dari itu, yakni membutuhkan ”tanah untuk kehidupan”. Kaum tani di pedesaan dan kaum miskin di perkotaan mayoritas berlahan sempit bahkan tak punya tanah sama sekali.


Namun terlepas dari polemik diatas, ada baiknya kita mempertimbangkan pembangunan di kawasan industri madura tersebut secara jernih. Persoalan yang dihadapi kali ini adalah harga tanah menembus batas kewajaran. Dalam hal ini saya tidak bermaksud untuk lebih memihak kepada investor dan memaksa masyarakat madura untuk menyerahkan tanahnya kepada pemerintah. Hal itu sangat tidak mungkin. Apalagi saya memang tidak berhak dan tidak memiliki kewenangan untuk melakukan itu.


Pulau madura yang masuk kategori daerah tertinggal sebagaimana deskripsi pada paragraf awal sangat membutuhkan percepatan pembangunan infrastruktur. Dalam bingkai ini termasuk pembangunan sentra industri sebagaimana yang telah dicanangkan. Hanya saja dalam proses pembebasan lahan hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang lebih berkeadilan dan bermoral.


Artinya, titik tekan dalam pembebasan lahan adalah pemberian ganti rugi dengan ukuran keadilan dengan harga yang menguntungkan (utamanya bagi masyarakat). Jangan sampai ada ketidakadilan dalam pengambilalihan tanah mereka oleh negara. Sedangkan Yang dimaksud bermoral disini adalah pembebasan lahan yang dilakukan tanpa menggunakan kekerasan. Apalagi kali ini objeknya adalah pertanahan di madura. Dengan kondisi masyarakatnya yang terkenal keras, Menggunakan kekerasan sama halnya menyulut pertikaian dalam yang lebih skala besar.


Potret pertikaian antara rakyat dan pemerintah yang terjadi selama ini Anggap saja sebagai pelajaran bagi kita semua untuk lebih bersikap santun dalam menyelesaikan berbagai masalah secara bersama. Kita sudah cukup miris melihat tontonan fenomena kekerasan yang tersaji baik secara langsung atau tidak.


Masih banyak solusi alternatif yang bisa ditempuh. Salah satunya adalah pendekatan ketokohan. Mungkin saja ini menjadi pemecah kebuntuan bagi masalah ini. Mengingat warga madura dikenal dengan masyarakat tradisional-paternalistik. Dalam hal ini berarti yang banyak bermain tentu tokoh-tokoh lokal yang populer di kalangan bawah. Sebab di madura mereka lebih dipercaya dan familiar daripada para pengusaha yang tampak sangat asing.




Senin, 24 Mei 2010

MA'HAD ALY ANGKATAN KE-6


Oleh : Farid Mawardi

Di awal masa pendidikan di ma'had aly saya merasa begitu berat, karena harus berpisah dengan kawan sekaligus para senior saya yang mesti pulang ke mayarakat. Kendatipun mereka sebenarnya lulus tes pada ujian seleksi mahasantri Ma'had Aly.(*) pada awal itu pula untuk pertama kali kami merasa bahagia sekaligus penasaran. Bahagia, karena dinyatakan lulus meski tidak dengan jumlah nilai tertinggi, Dan Penasaran, karena kelulusan ini merupakan suksesi dari serangkaian ujian yang diakhiri dengan Psikotest.


Teman-teman juga banyak bertanya, mengapa ujian ini mesti berakhir dengan tes psikis.? Apakah dengan volume keaktifan selama di I'dad belum cukup untuk membuktikan bahwa kami normal..? Mengapa orang yang (hendak berupaya) memahami Fiqh mesti diuji terlebih dahulu secara psikis.? Lalu apakah memang ada keterkaitan antara fiqh dengan psikologi.? (**)

Sederet Pertanyaan itu bermunculan saat diskusi-diskusi Pojok berlangsung. (**)


Belum terjawab sederet pertanyaan di atas, kami lagi-lagi merasa musykil. tepatnya Sesaat ketika perkuliahan dimulai. Sesuai jadwal dan ketentuan dari lembaga, pada semester awal itu our great teacher KH. Dailamy ahmad membacakan kitab Ihya' Ulumiddin. Yang membuat kami heran, pada kajian kitab dimaksud langsung membaca Rubu' al-munjiyat, atau lebih tepatnya bab Taubat. Sekali lagi, sepanjang kuliah berlangsung terus saja kami membatin bertanya. Mengapa harus bab taubat yang dibaca awal kuliah ini.


Tahun pertama, teman-teman belum sepenuhnya bergaul melebur secara holistik. Tingkat keakraban masih di garis standar. Ikatan emosionalnya masih bersifat sektoral sesuai kamar asal pada waktu I'dad. Namun pada tahun berikutnya, kami seolah satu kesatuan yang sulit dipisahkan (secara emosional tidak secara ide personal).


Benar kata para senior, setiap angkatan memiliki ciri khas tersendiri. Begitupun di mata saya, Angkatan ke-6 sangat berbeda dengan angkatan sebelum dan sesudahnya. Terbukti, jika pada angkatan sebelumnya komputer masih jarang, pada masa saya komputer merupakan penghuni baru kamar-kamar kami. Bahkan Jika dihitung-hitung, komputer yang ada berjumlah 9 unit dan laptop sejumlah 8. Dengan adanya komputer ini, ternyata terhadap kegiatan bahtsul masail -terutama untuk menghadiri undangan- dari luar lebih bernilai positif.


Pada masa awal-awal, saat bahtsul masail diselenggarakan, ternyata banyak sekali para undangan yang meliputi pesantren-pesantren besar yang tidak memenuhi undangan Bahtsu tersebut. Usut punya usut, menurut beberapa kalangan, absensi mereka sebagai balasan karena pesantren kita jarang menghadiri dan memenuhi undangan bathsu mereka. Jadi secara tidak langsung, kita diboikot. Namun dengan kehadiran software digital kutub dan ketersediaan komputer yang memadai sedikit demi sedikit cerita sedih bahtsul masail dan jaringannya bisa teratasi.


Bagi saya, Ma'had Aly adalah Ma'had Gharib (aneh). Betapa tidak. Kompleks ma'hadnya lebih mirip sebuah gang perlintasan penghubung antar jalanan. Nuansa tersebut lebih terasa jika hari sudah sore. Banyak berlalu lalang kendaraan melintasi Perpus, Asrama hingga depan Kantor dan Wisma Dosen. Terlebih lagi kebiasaan teman-teman duduk bersama di depan kamar MA 1, kamar yang pas bersebelahan dengan gang. Sehingga merekapun kerapkali menyahuti salam sapa para pengendara. Bahkan tanpa sadar kita terbawa Suasana jalanan. Makanya Tidak mengherankan jika kemudian rekan-rekan tidak sungkan berbasa-basi menawari para pengendara untuk sekedar mampir, sebagaimana layaknya kehidupan pinggiran. Dengan demikian, santri ma'had aly (angkatan saya) terkadang lebih merasa berada di tengah komunitas masyarakat daripada di alam pesantren. Aneh.


Selain itu pada angkatan saya sebagian rekan ada yang tampak absurd. Terbukti beberapa aktifitas yang berlansung di kamar MA:04. kamar tersebut sering diistilahkan dengan asrama sentra bisnis. Ungkapan ini jelas tidak salah. Sebab di kamar itu banyak berlangsung usaha bisnis. Saudara singhan dengan usaha kantin mininya. Ia menyediakan banyak makanan ringan dan aneka minuman khas pelengkap obrolan santai.


Selain itu, ada saudara Ali marzuki. Untuk rekan yang satu ini lebih melirik bisnis pengisian pulsa dan penyedia jasa ketik plus printing. Bahkan harganya pun kompetitif tergantung kondisi pasar. Usahanya pun terbilang maju. Bahkan pada suatu malam, seorang anak lelaki belia seusia pelajar SMP mendatangi kamar unik ini. Santri muda yang mengaku berasrama di MQ ini tiba-tiba masuk sembari mengucap salam dan bertanya kepada penghuninya: "Assalamualaikum Ustadz... Katanya disini menjual kartu perdana GSM..?". Sangat diluar kewajaran bagi saya.

Tentang dinamika pemikiran, Kesan ma'had aly liberal pada masa 2005-2008 tidak terlalu menonjol. Karena –bagi saya- memilih pikiran liberal hanya merupakan cerita klise yang tidak akan membooming sebagaimana era sebelumnya. Apalagi di era kebebasan seperti ini, apapun dan siapapun bisa mengatakan semaunya. Melihat semua itu, kita (atau mungkin lebih tepat, saya) lebih memilih melakukan filter dan mengkaji pemikiran-pemikiran yang sudah ada. Baik itu pemikiran lama maupun yang baru (yang sering diistilahkan aktual, meskipun sebenarnya tidak mesti begitu).

Saya justru terobsesi terhadap apa yang pernah bapak wawan kemukakan saat beliau baru kembali dari Jakarta. Beliau mengungkapan tentang konsep multidisiplin. Beliau menggagas, bahwa Sebagai displin utama kita adalah fiqh dan ushul fiqh, Namun alangkah idealnya jika dalam diri kita juga menguasai satu disiplin lainnya. Seperti disiplin ilmu fisika, kimia, psikologi, sosiologi, medis atau kedokteran dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian akan lahir para pakar fiqh kosmetik, pakar fiqh pangan, pakar fiqh medis, pakar fiqh Lingkungan hidup, pakar fiqh informatika, pakar fiqh marketing, pakar fiqh militer, pakar fiqh politik dan para pakar fiqh multidisiplin lainnya. Hal ini mungkin terlalu ideal. Tapi bukan mustahil untuk dicapai.


Yang sangat saya kagumi, di ma'had aly banyak dihuni oleh orang-orang yang memiliki kapabilitas, dedikasi dan responsibilitas yang begitu megah Namun familiar. Bapak pemangku Kiai Hariri, yang memiliki kesantunan dan kesabaran yang luar biasa. Beliau menyikapi rekan yang terkadang (atau seringkali) bertingkah di luar kendali. Bapak kiai Afifuddin muhajir, kiai Lokal bertaraf internasional. Bapak wawan yang diwajahnya terpancar keikhlasan tanpa batas.

Ustad nakha'i yang Low Profile dengan high capacity-nya. Bapak Yazid yang menulis ditengah belantara kesunyian sikapnya. Bapak Kiai Hasan Basri, Lc. Yang begitu teguh menanamkan proses sunnatuLLah dengan prinsip-prinsip perjuangan yang murni tanpa tendensi. Kiai Dailamy Ahmad, Imam al-Ma'hadain. Beliau guru senior dengan berbagai dimensi. Mulai dimensi akademisi, tasawuf, hingga spiritual. Dan para masyayikh lainnya yang ilustrasi kebaikannya tidak cukup terwakili hanya dengan deretan huruf perhuruf ini. Baarakallahu lahum wa lana.

Semoga ma'had semakin maju dan mampu membuka mata kejahilan dunia. Amin.

_________________________________________________________
*) Mereka -diantaranya- adalah H. Khoiri Zama, Sunarwi, dan Abang Khairun.
**)
Bahkan pertanyaan itu kembali terngiang saat masa-masa ma'had aly angkatan kami usai. sehingga tidak heran jika fokus penelitian pada tesis saya seputar Psikologi Fiqh; Upaya Pemetaan Peranan Ilmu Psikologi dalam Proses Intinbaht al-Ahkam. Hal ini tentu bukan sekedar gengsi atau gaya-gayaan. Tapi jauh lebih dari itu. Penelitian ini tak lain untuk menjawab keresahan intelektual yang telah diungkapkan di atas.
***) Bahkan menurut hasil diskusi informal tersebut, prosesi psikotest itu tidak cukup representatif Hal ini karena masih dijumpai beberapa nama yang lulus tes padahal secara psikis masih perlu dipertanyakan kembali.

Arti Tulisan tangan Anda

Saat kita menulis sebenarnya tangan kita hanya sebagai alat untuk memegang pena. Gaya tulisan kita itu berasal dari pikiran bawah sadar kita. maka bisa dikatakan bahwa tulisan bisa mengungkapkan berbagai perasaan emosi si penulisnya. Tentu saja untuk mengetahuinya tidak sembarangan ada ilmu membaca rahasia dibalik tulisan tangan atau yang disebut dengan graphology. Ambil pulpenmu dan tuliskan sesuatu yang mana yah kira-kira karaktermu? Berikut penjelasan secara garis besarnya.

Tekanan
Dari kuat atau ringannya tekanan tulisan seseorang kita dapat mengetahui karakter orang tersebut. Bisa kamu perhatikan dengan memperhatikan bekas goresan dibalik kertas.
Tekanan yang kuat:
Orang yang tulisannya tebal hingga menimbulkan bekas coretan dibalik kertas biasanya mereka memiliki emosional yang tinggi. Terlalu mendalami perasaan mereka baik itu bahagia atau sakit hati. Mereka menyerap segala suatu seperti spon. Biasanya mereka juga memiliki selera yang tinggi. Tegas dan memiliki keinginan yang kuat bahkan cenderung memaksakan orang lain untuk menuruti kemauan meraka. Makanya tak jarang orang yang memiliki tekanan tulisan seperti ini biasanya kaku susah menyesuaikan diri dalam pergaulan.
Tekanan yang ringan:
Tulisan yang memiliki tekanan halus mencerminkan kepribadian yang tenang dan santai. Mereka lebih bertoleransi pengertian sulit mengambil keputusan dan biasanya mudah terpengaruh


Ukuran
Tulisan besar
Orang yang menulis dengan ukuran tulisan yang besar biasanya cenderung suka diperhatikan selalu ingin tampil didepan dan ingin didengarkan.
Tulisan kecil
Orang yang menulis dengan ukuran kecil biasanya lebih memperhatikan detail introspektif cenderung lebih pendiam dan mandiri


Kemiringan
Miring ke kanan
Orang dengan tulisan seperti ini biasanya memiliki karakter yang impulsif emosional aktif suka bergaul ramah menyukai tantangan lebih terbuka (ekstrovert) dan ekspresif
Miring ke kiri
Jenis tulisan seperti ini biasanya penulisnya bersikap menutup diri (introvert). Lebih protektif selalu berpikir logis dan mencerminkan sifat seseoarang yang lebih menarik diri.
Tegak lurus
Orang yang memiliki tulisan tegak lurus mencerminkan seseorang yang bisa mengontrol diri dan bisa menahan Saat kita menulis sebenarnya tangan kita hanya sebagai alat untuk memegang pena.

Namun jika tulisan sangat buruk hingga tidak dapat dibaca, ada beberapa kemungkinan. kemungkinan pertama, bisa jadi jarang sekali anda menggunakan tangan untuk menulis. tapi jika tidak, berarti anda tidak bakat menulis.. (Hehee. PiZzz)