Senin, 24 Mei 2010

MA'HAD ALY ANGKATAN KE-6


Oleh : Farid Mawardi

Di awal masa pendidikan di ma'had aly saya merasa begitu berat, karena harus berpisah dengan kawan sekaligus para senior saya yang mesti pulang ke mayarakat. Kendatipun mereka sebenarnya lulus tes pada ujian seleksi mahasantri Ma'had Aly.(*) pada awal itu pula untuk pertama kali kami merasa bahagia sekaligus penasaran. Bahagia, karena dinyatakan lulus meski tidak dengan jumlah nilai tertinggi, Dan Penasaran, karena kelulusan ini merupakan suksesi dari serangkaian ujian yang diakhiri dengan Psikotest.


Teman-teman juga banyak bertanya, mengapa ujian ini mesti berakhir dengan tes psikis.? Apakah dengan volume keaktifan selama di I'dad belum cukup untuk membuktikan bahwa kami normal..? Mengapa orang yang (hendak berupaya) memahami Fiqh mesti diuji terlebih dahulu secara psikis.? Lalu apakah memang ada keterkaitan antara fiqh dengan psikologi.? (**)

Sederet Pertanyaan itu bermunculan saat diskusi-diskusi Pojok berlangsung. (**)


Belum terjawab sederet pertanyaan di atas, kami lagi-lagi merasa musykil. tepatnya Sesaat ketika perkuliahan dimulai. Sesuai jadwal dan ketentuan dari lembaga, pada semester awal itu our great teacher KH. Dailamy ahmad membacakan kitab Ihya' Ulumiddin. Yang membuat kami heran, pada kajian kitab dimaksud langsung membaca Rubu' al-munjiyat, atau lebih tepatnya bab Taubat. Sekali lagi, sepanjang kuliah berlangsung terus saja kami membatin bertanya. Mengapa harus bab taubat yang dibaca awal kuliah ini.


Tahun pertama, teman-teman belum sepenuhnya bergaul melebur secara holistik. Tingkat keakraban masih di garis standar. Ikatan emosionalnya masih bersifat sektoral sesuai kamar asal pada waktu I'dad. Namun pada tahun berikutnya, kami seolah satu kesatuan yang sulit dipisahkan (secara emosional tidak secara ide personal).


Benar kata para senior, setiap angkatan memiliki ciri khas tersendiri. Begitupun di mata saya, Angkatan ke-6 sangat berbeda dengan angkatan sebelum dan sesudahnya. Terbukti, jika pada angkatan sebelumnya komputer masih jarang, pada masa saya komputer merupakan penghuni baru kamar-kamar kami. Bahkan Jika dihitung-hitung, komputer yang ada berjumlah 9 unit dan laptop sejumlah 8. Dengan adanya komputer ini, ternyata terhadap kegiatan bahtsul masail -terutama untuk menghadiri undangan- dari luar lebih bernilai positif.


Pada masa awal-awal, saat bahtsul masail diselenggarakan, ternyata banyak sekali para undangan yang meliputi pesantren-pesantren besar yang tidak memenuhi undangan Bahtsu tersebut. Usut punya usut, menurut beberapa kalangan, absensi mereka sebagai balasan karena pesantren kita jarang menghadiri dan memenuhi undangan bathsu mereka. Jadi secara tidak langsung, kita diboikot. Namun dengan kehadiran software digital kutub dan ketersediaan komputer yang memadai sedikit demi sedikit cerita sedih bahtsul masail dan jaringannya bisa teratasi.


Bagi saya, Ma'had Aly adalah Ma'had Gharib (aneh). Betapa tidak. Kompleks ma'hadnya lebih mirip sebuah gang perlintasan penghubung antar jalanan. Nuansa tersebut lebih terasa jika hari sudah sore. Banyak berlalu lalang kendaraan melintasi Perpus, Asrama hingga depan Kantor dan Wisma Dosen. Terlebih lagi kebiasaan teman-teman duduk bersama di depan kamar MA 1, kamar yang pas bersebelahan dengan gang. Sehingga merekapun kerapkali menyahuti salam sapa para pengendara. Bahkan tanpa sadar kita terbawa Suasana jalanan. Makanya Tidak mengherankan jika kemudian rekan-rekan tidak sungkan berbasa-basi menawari para pengendara untuk sekedar mampir, sebagaimana layaknya kehidupan pinggiran. Dengan demikian, santri ma'had aly (angkatan saya) terkadang lebih merasa berada di tengah komunitas masyarakat daripada di alam pesantren. Aneh.


Selain itu pada angkatan saya sebagian rekan ada yang tampak absurd. Terbukti beberapa aktifitas yang berlansung di kamar MA:04. kamar tersebut sering diistilahkan dengan asrama sentra bisnis. Ungkapan ini jelas tidak salah. Sebab di kamar itu banyak berlangsung usaha bisnis. Saudara singhan dengan usaha kantin mininya. Ia menyediakan banyak makanan ringan dan aneka minuman khas pelengkap obrolan santai.


Selain itu, ada saudara Ali marzuki. Untuk rekan yang satu ini lebih melirik bisnis pengisian pulsa dan penyedia jasa ketik plus printing. Bahkan harganya pun kompetitif tergantung kondisi pasar. Usahanya pun terbilang maju. Bahkan pada suatu malam, seorang anak lelaki belia seusia pelajar SMP mendatangi kamar unik ini. Santri muda yang mengaku berasrama di MQ ini tiba-tiba masuk sembari mengucap salam dan bertanya kepada penghuninya: "Assalamualaikum Ustadz... Katanya disini menjual kartu perdana GSM..?". Sangat diluar kewajaran bagi saya.

Tentang dinamika pemikiran, Kesan ma'had aly liberal pada masa 2005-2008 tidak terlalu menonjol. Karena –bagi saya- memilih pikiran liberal hanya merupakan cerita klise yang tidak akan membooming sebagaimana era sebelumnya. Apalagi di era kebebasan seperti ini, apapun dan siapapun bisa mengatakan semaunya. Melihat semua itu, kita (atau mungkin lebih tepat, saya) lebih memilih melakukan filter dan mengkaji pemikiran-pemikiran yang sudah ada. Baik itu pemikiran lama maupun yang baru (yang sering diistilahkan aktual, meskipun sebenarnya tidak mesti begitu).

Saya justru terobsesi terhadap apa yang pernah bapak wawan kemukakan saat beliau baru kembali dari Jakarta. Beliau mengungkapan tentang konsep multidisiplin. Beliau menggagas, bahwa Sebagai displin utama kita adalah fiqh dan ushul fiqh, Namun alangkah idealnya jika dalam diri kita juga menguasai satu disiplin lainnya. Seperti disiplin ilmu fisika, kimia, psikologi, sosiologi, medis atau kedokteran dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian akan lahir para pakar fiqh kosmetik, pakar fiqh pangan, pakar fiqh medis, pakar fiqh Lingkungan hidup, pakar fiqh informatika, pakar fiqh marketing, pakar fiqh militer, pakar fiqh politik dan para pakar fiqh multidisiplin lainnya. Hal ini mungkin terlalu ideal. Tapi bukan mustahil untuk dicapai.


Yang sangat saya kagumi, di ma'had aly banyak dihuni oleh orang-orang yang memiliki kapabilitas, dedikasi dan responsibilitas yang begitu megah Namun familiar. Bapak pemangku Kiai Hariri, yang memiliki kesantunan dan kesabaran yang luar biasa. Beliau menyikapi rekan yang terkadang (atau seringkali) bertingkah di luar kendali. Bapak kiai Afifuddin muhajir, kiai Lokal bertaraf internasional. Bapak wawan yang diwajahnya terpancar keikhlasan tanpa batas.

Ustad nakha'i yang Low Profile dengan high capacity-nya. Bapak Yazid yang menulis ditengah belantara kesunyian sikapnya. Bapak Kiai Hasan Basri, Lc. Yang begitu teguh menanamkan proses sunnatuLLah dengan prinsip-prinsip perjuangan yang murni tanpa tendensi. Kiai Dailamy Ahmad, Imam al-Ma'hadain. Beliau guru senior dengan berbagai dimensi. Mulai dimensi akademisi, tasawuf, hingga spiritual. Dan para masyayikh lainnya yang ilustrasi kebaikannya tidak cukup terwakili hanya dengan deretan huruf perhuruf ini. Baarakallahu lahum wa lana.

Semoga ma'had semakin maju dan mampu membuka mata kejahilan dunia. Amin.

_________________________________________________________
*) Mereka -diantaranya- adalah H. Khoiri Zama, Sunarwi, dan Abang Khairun.
**)
Bahkan pertanyaan itu kembali terngiang saat masa-masa ma'had aly angkatan kami usai. sehingga tidak heran jika fokus penelitian pada tesis saya seputar Psikologi Fiqh; Upaya Pemetaan Peranan Ilmu Psikologi dalam Proses Intinbaht al-Ahkam. Hal ini tentu bukan sekedar gengsi atau gaya-gayaan. Tapi jauh lebih dari itu. Penelitian ini tak lain untuk menjawab keresahan intelektual yang telah diungkapkan di atas.
***) Bahkan menurut hasil diskusi informal tersebut, prosesi psikotest itu tidak cukup representatif Hal ini karena masih dijumpai beberapa nama yang lulus tes padahal secara psikis masih perlu dipertanyakan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar